KAWÉNTENAN GEGURITAN SAMPIK PAMASTIKA NILAI PENDIDIKAN KARAKTER RING DESA UBUNG KAJA
DOI:
https://doi.org/10.25078/ds.v3i2.3097Kata Kunci:
Geguritan Sampik, Pendidikan Karakter, Desa Ubung KajaAbstrak
Kasusastraan Bali adalah sastra daerah warisan para leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat di Bali dengan menyesuaikan nilai-nilai agama Hindu salah satunya Geguritan. Salah satu dari isi geguritan ini ada pesan pendidikan karakter yaitu Geguritan Sampik. Geguritan ini bercerita tentang laki-laki bersama perempuan yang bernama Sampik dan Ingtai yang jatuh cinta sampai bersumpah akan hidup sebagai suami istri sehidup semati. Tetapi ketika membicarakan tentang keberadaan geguritan di zaman sekarang, sudah semakin surut masyarakat tahu dan tekun seperti pada masyarakat Desa Ubung Kaja. Masalah dalam penelitian ini ada tiga yaitu (1) struktur naratif dalam Geguritan Sampik (2) pendidikan karakter pada Geguritan Sampik (3) keberadaan Geguritan Sampik pada masyarakat di Lingkungan Desa Ubung Kaja. Teori yang digunakan yaitu (1) teori strukturalisme, (2) teori nilai (3) teori fungsi. Kajian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif.Penelitian ini mendapatkan temuan berupa struktur naratif geguritan Sampik dan kajian Pendidikan karakter dalam geguritan Sampik. Adapun struktur naratif dalam karya sastra ini adalah: Insiden, alur, tokoh dan penokohan, latar, tema, dan amanat. Sedangkan Pendidikan karakter yang di dapatkan dalam geguritan Sampik adalah religius, jujur, kerja keras, bersahabat/komunikatif, cinta damai , miwah tanggung jawab. Keberadaan Geguritan Sampik pada masyarakat di Lingkungan Desa Ubung Kaja adalah sudah semakin surut karena tidak ada seni pertunjukkan yang menggunakan Geguritan Sampik ini seperti drama gong, arja dan geguntangan.






