PEMUJAAN SIMBOL DAN PEMAKNAAN ATRIBUT SUCI DI KOMPLEKS PERCANDIAN DIENG WONOSOBO JAWA TENGAH
DOI:
https://doi.org/10.25078/vs.v7i1.1406Kata Kunci:
atribut suci, dieng, teologi, simbol, Śiva TriśirahAbstrak
Penemuan Arca Śiva Triśirah di Kompleks Percandian Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah,
Indonesia mengungkapkan hal baru dalam konstruksi Teologi Hindu Nusantara di masa lampau.
Bahwa konsep pemujaan Śivaistik mencapai titik kematangan teologinya dengan pemujaan atribut suci
yang menuntun para pemuja menuju keberadaan Tuhan Tertinggi, yakni Siva yang melampaui waktu
dan keadaan, melampaui semua nama Dewa. Konsep ini juga disebut Nir-Saguna Brahman dalam
kontruksi Teologi Hindu Nusantara. Sebagai “Kota Imam” sejumlah simbol dan atribut ilahi yang
dijadikan sebagai media pemujaan. Dataran Tinggi Dieng dianggap titik suci utama dan pertama di
pulau Jawa dan Nusantara. Dieng disebut sebagai Poros Dunia, Poros Kosmik, memiliki banyak tandatanda suci. Dalam sejarahnya yang Panjang, Dieng merupakan titik sentral Peradaban Hindu, tempat
para Ṛṣi mengabdikan hidupnya untuk pengetahuan, memohon kesejahteraan bagi Raja Raja Hindu
pada berbagai Jaman di Tanah Jawa dan Nusantara. Kompleks Candi Dieng ini memiliki usia yang
sudah sangat tua karena pembangunannya telah dimulai pada abad ke- 7 dan ke-8, bahkan diyakini
lebih tua lagi. sejumlah catatan menyatakan bahwa Dieng masih sebagai kompleks pemujaan Hindu
pada abad ke-14 bahkan hingga abad ke-19. Awalnya Candi-Candi di Dataran Tinggi Dieng berjumlah
400 candi, namun saat ini yang tersisa hanya delapan kompleks candi. Candi di Dataran Tinggi Dieng
diberi nama tokoh-tokoh Māhābharata versi pewayangan Jawa seperti Candi Arjuna, Semar, Srikandi,
Sembadra, Puntadeva, Ghatotkaca, Setyaki, Candi Nakula dan Sadewa, Dwarawati, Pandu, Margasari,
dan Candi Parikesit. Konsep Ketuhanan di dataran Tinggi Dieng bercorak Śivaistik dengan pemujaan
Tri Mūrti. Dewa Śiva Triśirah, yakni Śiva dengan tiga wajah dan empat tangan, merupakan Dewa
Tertinggi. Namun demikian, terdapat sejumlah simbol dan atribut ilahi yang menjadi media pemujaan
sebagai upaya terhubung dengan keilahian. Pemujaan atas simbol dan stribut suci ini menghidupkan
fakta baru tentang kematangan konsep Teologi Hindu di Nusantara.



