SUMBER KEJAHATAN DAN PENDERITAAN DALAM WACANA FILSAFAT AGAMA DAN KRITIK ATAS ARGUMEN TEODISE PERSPEKTIF IMMANUEL KANT
DOI:
https://doi.org/10.25078/vs.v10i2.3833Kata Kunci:
Kejahatan, Penderitaan, Teodise, Immanuel Kant, Filsafat Agama, MoralitasAbstrak
Penelitian ini membahas sumber kejahatan dan penderitaan dalam konteks wacana filsafat agama serta kritik terhadap argumen teodise dari perspektif Immanuel Kant. Dalam filsafat agama, problematika kejahatan dan penderitaan menimbulkan tantangan terhadap keberadaan Tuhan yang Maha Baik, Maha Kuasa, dan Maha Tahu. Tradisi teodise berupaya mempertahankan koherensi atribut-atribut ilahi dengan keberadaan kejahatan, tetapi sering kali menghadapi berbagai kritik. Penelitian ini memfokuskan pada pendekatan Kant persoalan ini yang menolak konsep teodise konvensional dan mengalihkan perdebatan dari pembenaran Tuhan kepada dimensi moralitas manusia. Melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan hermeneutik filosofis, maka hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Immanuel Kant menolak upaya tradisional untuk membenarkan Tuhan di hadapan kejahatan dan penderitaan, dengan alasan bahwa argumen teodise gagal secara moral dan epistemologis. Sebaliknya, Kant mengusulkan bahwa manusia seharusnya mengarahkan perhatiannya pada kewajiban moral dan tanggung jawab etis untuk mengatasi penderitaan dan kejahatan. Kant berpendapat bahwa kapasitas manusia untuk memilih antara baik dan buruk menjadi dasar bagi pemahaman tentang kejahatan, dan bahwa kejahatan merupakan konsekuensi dari penyalahgunaan kebebasan moral manusia. Selain itu, Kant menegaskan bahwa kepercayaan pada Tuhan harus didasarkan pada moralitas praktis daripada bukti spekulatif yang sering digunakan dalam argumen teodise. Oleh karenanya Kant menggeser fokus dari pembelaan teoretis tentang kejahatan ke pendekatan praktis dan etis, yang mendorong manusia untuk memperbaiki kondisi dunia melalui tindakan moral.



