Burak Bawana Menak: Kebangkitan Wayang Topeng Menak di Malang
DOI:
https://doi.org/10.25078/wd.v20i2.5438Kata Kunci:
Cultural revitalization, Wayang Topeng Menak, Burak Bawana Menak, social capital, artistic regenerationAbstrak
Program Burak Bawana Menak di Kota Malang pada tahun 2025 menjadi momen kunci kebangkitan Wayang Topeng Menak, sebuah seni pertunjukan tradisional yang telah absen dari panggung publik selama hampir lima dekade. Studi ini mengkaji bagaimana program ini berperan sebagai katalisator kebangkitan melalui pemulihan memori kolektif, regenerasi pelaku, penguatan modal sosial, interpretasi elemen simbolik, dan strategi keberlanjutan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan etnografi simbolik, data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Temuan menunjukkan bahwa Burak Bawana Menak berperan sebagai pemicu budaya, merevitalisasi Wayang Topeng Menak melalui: (1) transfer pengetahuan antargenerasi antara maestro senior dan pelaku muda, (2) penguatan identitas budaya dalam komunitas, (3) keterlibatan aktif komunitas seni dan organisasi budaya, (4) penguatan modal sosial melalui jaringan lokal dan dukungan pemerintah, dan (5) peningkatan visibilitas publik melalui amplifikasi media. Faktor-faktor keberhasilan meliputi modal sosial komunitas, pengakuan simbolik pemerintah, dan liputan media, sementara tantangan yang dihadapi adalah regenerasi maestro, keterbatasan dana, dan adaptasi terhadap preferensi penonton kontemporer. Keberhasilan jangka panjang akan memerlukan sinergi berbagai pemangku kepentingan, strategi digitalisasi, dan pengakuan formal sebagai Warisan Budaya Takbenda.



