Upacara Wayang Sapuh Leger dalam Teks Kala Puraṇa: pandanga Sosial Budaya
Kata Kunci:
teks dan konteks, ritual sapuh leger, sosial budaya.Abstrak
Dalam keseharian kita tidak terlepas dari adanya sebuah ritual keagaam. Dimana dalam keseharianya digunakan istilah Naimitika Yajdnya dan Nitya yadnya. Dimana keduanya dipergunakan dalam keseharian kita. Dimana yadnya dengan istilah tersebut dipergunakan dalam kehidupan dimana naimitika yadnya dipergunakan dalam waktu tertentu sedangkan nitya yadnya dipergunakan dalam waktu sehari-hari. Nah, pada kesepatan ini dibahas mengenai panca yadnya yang bersifat naimitika yadnya yakni upacara sapuh leger. Dimana dibali kental akan agama, budaya, tradis, dan teks-teks yang bersangkut paut dengan adanya keseharian. Teks yang diapakai acuan dalam upacara sapuh leger ialah kala tattwa dan kala purana dan ada teks-teks lain yang masih berhubungan dengan ritus tersebut. Diman biasanya orang yang diupacara sapuh leger ialah orang-orang yang lahir pada wuku wayang, sanan empeg, tlaga apit pancoran, pancoran apit tlaga. Untuk orang-orang tersebut benar adanya untuk dibutkan sebuah upacara yang nantinya dapat menjadi orang tersebut tidak lagi terikat dengan lara atau mala.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2022 JURNAL PENALARAN RISET (Journal of Reasoning Research)

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.


